Minggu, 08 Mei 2011

Teori Strategi pembangunan


TEORI STRATEGI PEMBANGUNAN

            Teori pembangunan dalam ilmu sosial dapat dibagi ke dalam dua paradigma besar, modernisasi dan ketergantungan (Lewwellen 1995, Larrin 1994, Kiely 1995 dalam Tikson, 2005). Paradigma modernisasi mencakup teori-teori makro tentang pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial dan teori-teori mikro tentang nilai-nilai individu yang menunjang proses perubahan. Paradigma ketergantungan mencakup teori-teori keterbelakangan (under-development) ketergantungan (dependent development) dan sistem dunia (world system theory) sesuai dengan klassifikasi Larrain (1994). Sedangkan Tikson (2005) membaginya ke dalam tiga klasifikasi teori pembangunan, yaitu modernisasi, keterbelakangan dan ketergantungan. Dari berbagai paradigma tersebut kemudian muncul berbagai versi tentang pengertian pembangunan.
            Dalam praktik pembangunan di berbagai negara, setidaknya pada tahap awal pembangunan umumnya berfokus pada peningkatan produksi. Meskipun banyak varian pemikiran, pada dasarnya kata kunci dalam pembangunan adalah pembentukan modal. Oleh karena itu, strategi pembangunan yang dianggap paling sesuai adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mengundang modal asing dan melakukan industrialisasi. Peranan sumber daya manusia (SDM) dalam strategi semacam ini hanyalah sebagai “instrumen” atau salah satu “faktor produksi” saja. Manusia ditempatkan sebagai posisi instrumen dan bukan merupakan subyek dari pembangunan. Titik berat pada nilai produksi dan produktivitas telah mereduksi manusia sebagai penghambat maksimisasi kepuasan maupun maksimisasi keuntungan.
            Konsekuensinya, peningkatan kualitas SDM diarahkan dalam rangka peningkatan produksi. Inilah yang disebut sebagai pengembangan SDM dalam kerangka production centered development ­(Tjokrowinoto, 1996). Bisa dipahami apabila topik pembicaraan dalam perspektif paradigma pembangunan yang semacam itu terbatas pada masalah pendidikan, peningkatan ketrampilan, kesehatan, link and match, dan sebagainya. Kualitas manusia yang meningkat merupakan prasyarat utama dalam proses produksi dan memenuhi tuntutan masyarakat industrial. Alternatif lain dalam strategi pembangunan manusia adalah apa yang disebut sebagai people-centered development atau panting people first (Korten, 1981 dalam Kuncoro, 2004). Artinya, manusia (rakyat) merupakan tujuan utama dari pem­bangunan, dan kehendak serta kapasitas manusia merupakan sumber daya yang paling penting Dimensi pembangunan yang semacam ini jelas lebih luas daripada sekedar membentuk manusia profesional dan trampil sehingga bermanfaat dalam proses produksi. Penempatan manusia sebagai ­subyek pembangunan menekankan pada pentingnya pemberdayaan (empowerment) manusia, yaitu kemampuan manusia untuk mengaktualisasikan segala potensinya.
            Pembangunan yang berbasis pada peningkatan produksi ini jika tidak dikelola dan diatur  secara efektif maka akan berpengaruh terhadap efisiensi pemanfaatan sumberdaya yang digunakan untuk produksi. Pengaruh ini juga berdampak pada sisi ekologis dan geografis. Semakin maraknya pembangunan serta semakin pesatnya arus komunikasi menyebabkan pendayagunaan sumberdaya juga meningkat signifikan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Terlebih jika pendayagunaan sumberdaya tersebut tidak disertai kearifan dan efisiensi maka akan terjadi ketimpangan di berbagai sisi kehidupan manusia.
Sebagaimana yang dijelaskan di atas, pembangunan mempunyai dampak positif dan negatif. Dampak negatif yang terlihat jelas bahkan telah dirasakan oleh sebagian penduduk dunia adalah kerusakan lingkungan baik di tingkat lokal maupun di tingkat global. Peningkatan laju pembangunan di setiap kawasan negara perlu mendapat perhatian yang serius seiring dengan dampak negatif yang semakin tidak terkendali. Kerusakan atau degradasi lingkungan juga dapat menurunkan laju pembangunan ekonomi tingkat produktivitas sumber daya alam yang semakin berkurang serta munculnya berbagai masalah kesehatan dan gangguan kenyamanan hidup.
            Pemanasan global sebagai salah satu contoh kerusakan lingkungan akibat pesatnya industrialisasi dan pembangunan yang disebabkan oleh emisi gas penyebab efek rumah kaca adalah suatu keniscayaan.  Industrialisasi dan pembangunan di seluruh dunia sedikit banyak ikut andil dalam penciptaan pemanasan global.  Meskipun tidak sedikit juga upaya untuk menekan atau mencegah peningkatan pemanasan global, baik di level internasional, nasional, maupun konteks lokal.
            Pemanasan global dan perubahan iklim mempersulit kehidupan masyarakat rentan, padahal sumbangan mereka terhadap emisi gas rumah kaca sangat sedikit dibandingkan negara-negara indusri. Indonesia mulai merasakan dampak pemanasan global (global warming) yang dibuktikan dari berbagai perubahan iklim maupun bencana alam yang terjadi.
            Dampak pemanasan global itu di antaranya, terjadinya perubahan musim di mana musim kemarau menjadi lebih panjang sehingga menyebabkan gagal panen, krisis air bersih dan kebakaran hutan. Dampak lainnya yaitu hilangnya berbagai jenis flora dan fauna khususnya di Indonesia yang memiliki aneka ragam jenis seperti pemutihan karang seluas 30 persen atau sebanyak 90-95 persen karang mati di Kepulauan Seribu akibat naiknya suhu air laut.
            Selain itu, penelitian dari Badan Meteorologi dan Geofisika menyebutkan, Februari 2007 merupakan periode dengan intensitas curah hujan tertinggi selama 30 tahun terakhir di Indonesia. Hal ini menandakan perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global. Indonesia yang terletak di equator, merupakan negara yang pertama sekali akan merasakan dampak perubahan iklim. Dampak tersebut telah dirasakan yaitu pada 1998 menjadi tahun dengan suhu udara terpanas dan semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
            Diperkirakan pada 2070 sekitar 800 ribu rumah yang berada di pesisir harus dipindahkan dan sebanyak 2.000 dari 18 ribu pulau di Indonesia akan tenggelam akibat naiknya air laut. Perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global telah menjadi isu besar di dunia. Mencairnya es kutub utara dan kutub selatan yang akan menyebabkan kepunahan habitat di sana merupakan bukti dari pemanasan global.
            Perlu perhatian yang serius untuk mengatasi dampak pemanasan global khusunya di bidang ekonomi. Karena jika tidak ditangani, maka akan timbul banyak petaka yang mengancam keberlangsungan perekonomian negara Indonesia. Semakin banyak perusahaan yang akan gulung tikar akibat sumberdaya alam yang biasanya dipakai sebagai faktor utama produksi menjadi rusak. Hal ini akan berpengaruh juga pada pendapatan produksi bahkan pada pendapatan negara (GNP) yang akan semakin menurun seiring dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat. Selain itu, pemanasan global menyebabkan akses publik akan suatu sumberdaya semakin terbatas , karena pemanasan global akan merusak kualitas serta mengurangi kuantitas sumberdaya seperti adanya pencemaran, penurunan kualitas air, buruknya kondisi pemukiman, dll.
            Pemanasan global disebabkan kegiatan manusia yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dari industri, kendaraan bermotor, pembangkit listrik bahkan menggunaan listrik berlebihan. Karena itu yang harus dilakukan untuk mengatasi ancaman pemanasan global adalah melakukan penghematan energi listrik, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, menghentikan penebangan dan pembakaran hutan jadi pemerintah harus didesak untuk menggunakan energi terbarukan seperti matahari, air dan angin yang lebih ramah lingkungan.
            Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi dampak pemanasan global bagi keberlangsungan mekanisme perekonomian di negara berkembang khususnya di Indonesia. Bahkan pemerintah telah mengambil kebijakan untuk mengatur pemanfaatan sumberdaya seperti pendayagunaan serta penghematan energi listrik untuk sektor industri. Langkah ini dirasa sudah tepat untuk merancang suatu mekanisme perekonomian yang berkelanjutan, namun masih harus mendapat dukungan dari masyarakat. Dukungan masyarakat bisa dalam bentuk kesadaran perilaku hemat energi, hemat penggunaan kertas, serta perilaku untuk memanfaatkan kembali barang yang telah terpakai (prinsip ini biasanya disebut dengan reuse, reduce, and recicle).
            Namun, penyelesaian ini seharusnya tidak hanya dilakukan oleh negara berkembang, tetapi negara maju yang konon sebagai pelaku utama kerusakan lingkungan akibat industrialisasi yang besar-besaran. Seperti melalui pengendalian emisi, penelitian serta riset .
Bottom of Form

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar